Wednesday, May 6, 2009

Past was passed and present is a gift






“Past was passed and present is a gift.”


Quoting this sweet motivational phrase, I wish to spread the fighting spirit which burning the hearts’ of the survivors of Kasr Al-Ainy Medical School. The exam blue do change the atmosphere as everyone trying to optimise and wisely use the left seconds revising and fixing the knowledge into the higher brain center. Less chit chatting, less sleeping…in class but maybe more eat? (yeah, brain needs glucose!). This phenomenon occurs annually. It is the time to see who is the loser, who is the warrior. Exam reveals many things actually…



The loser


“I wonder will I be in third year in the next season? In my
dream last night I saw I am holding my second year anatomy book. Oh, I’m
starting to tremor!”


or



“It is too late. Let just the flow run and we will see the result.
What will be will be. It just a matter of time”


Ya Allah save the ummah from these kind of syabab. Come on trust in yourself, if you ever fail before remember the famous quote,




“Cloudy days will leave and the sun will shine. Failure is not forever and
success is waiting!”


The utmost poverty is poor of determine power and lack of
sacrifice
–Mustafa Mashor-




Believe in yourself, believe in Ar-Rahman and Ar-Rahim, He who is The Most Gracious and The Most Merciful it will be half of the success. Ask from Him again and again. Cry with all your might. Stop wondering the indefinite things, syaitan would just whisper it again and again. Winning over the syaitan would be your first exam!

The warrior

“Success is optimising the opportunity. Success is striving to be a survivor.
Success is overcome emotional to be rational.”

A story. I have a friend (not the one you think, he is in Mars) who’s really not into biology. He is excellent actually but just not in biology. He is not studying biology much and one day he realise. It is not he can’t do it just he doesn’t want to. He’s having allergy with biology. With the left over time and as everyone is talking about the coming SPM which soon hit our faces, he is now playing. Playing with biology! He is flirting with biology now…all day long (quite exaggerating but the thing is he’s making an effort…the utmost one). The result came out and I don’t know his. But I think it wasn’t a bad one.

My view: He succeeded in overcoming his own emotion. He tried to cure his allergic. That’s real fighter.

Everyone has own definition on success. Just reminding you as you knew, success doesn’t last forever as your A’s in past UPSR leaving you might be a medal from your ibtidaii school. As my past success in cross-country (it is 13th place), I don’t know where my ibu keep the pink towel I won. What remain are the jewels we collected along the journey to hold a piece of effort: success. The jewel of sobr, as-sobrun jamil! The jewels of insisting and persisting. The jewel of building the strategy. The jewel of controlling the emotional. The jewel of resistance of peer and environmental pressure. Whatever your principle on success is just direct it to the real success. In the Day of Judgment, yaum la zhillu illa zhillullah, you are a FAZ. Do refer Ali Imran: 185.




Ask for victory by charity and prepare sobr in gaining the charity.
-Umar Al-Khatab-

Tuesday, March 10, 2009

Bukan sekadar 'life'




Beberapa hari selepas keputusan SPM keluar,
“Hang nak ambik apa nanti?”
“Medic”
“Huh, tak dak life!”


Khabaran reunion batch 02-06 di KLCC baru-baru ini mengimbau kembali dialog itu. Tak ada life itu maksudnya tak ada kehidupan atau tak ‘nikmat’ kehidupan? Stereotype medical student mitos is they are bunch of nerdy, sleep, eat, flirt with books. Kalau pun benar itu, siapa kata itu ‘tak dak life’?
Siapa kata bermati-matian mencari ilmu dan berusaha mengejar kejayaan itu ‘tak ada life’?

Dr Yusof Al-Qardhawi tak pernah main bola kerana sibuk mencari ilmu. Rabiatul Adawiyah siang dan malam memuja cintanya yang teragung. Rasulullah sering beruzlah sendirian di Ghar Hira’. Omar Mokhtar hidupnya sarat dengan agenda perjuangan di Libya. Ini nama-nama besar. Tak ada ‘life’ ke mereka ni? Nope. Ada. Ilmu itu ‘life’, mencari kebenaran itu ‘life’, perjuangan itu ‘life’. Besar skop ‘life’ itu. Bukan sekadar berpersatuan, handle program, download cerita baru, makan dengan kawan-kawan di Mo’men, main bowling di Megamall.

Bernafas ertinya zahiriahnya hidup. Setiap kehidupan itu akan diisi melalui hari-hari yang kita lalui. Pilihan-pilihan yang kita buat dan pilihan itu adalah berdasarkan tujuan hidup.

Ada empat kejahilan yang tak boleh dimaafkan:
1) Sirr wujuduhu
2) Ghayah hayatuhu
3) Risalah nauhu
4) Syakhsuhu
(dr. Ali Laban)

Seandainya hidup itu ghayahnya untuk menjadi seorang cardiologyst ulung, itulah yang akan diusahakan. Dia akan cakna setiap input, setiap flow dunia perubatan jantung. Kalau ghayahnya berbakti pada ibu ayah. Dia akan buat apa sahaja yang memungkinkan dia berbakti pada orang tuanya. Tolak 25% gaji untuk ibu ayah. Duduk dengan mereka supaya mudah untuk dijaga dan sebagainya. Kalau ghayahnya harta? Pangkat? RO?? Itulah asas, framework hidupnya dan that’s what he called life.

Hidup ini bukan percuma dan ada harga yang kita perlu bayar. Pada siapa? Pada Yang Menciptakan! Bukan dengan Dollar atau Yen tetapi dengan dua tanggungjawab: khalifah dan hamba. Ingatlah taklifan ini perlu dilunaskan dan akan dijadikan kes perbicaraan di Mahkamah Agung nanti. Kalau dengan Engineering boleh menyempurnakan taklifan ini, silalah usahakannya. Kalau dengan melengkapkan koleksi-koleksi t-shirts, badges Chelsea mampu? Kenapa tidak? Tanya pada diri, apa hujah yang akan disampaikan oleh kaki, mata terhadap ‘life’ aku di depan pendakwa raya nanti?

p/s: Allahu ghayatuna! Allahu ‘laifuna’ . Entri ini ditulis beberapa bulan lepas.

Tuesday, February 24, 2009

Plain...not so plain


My daily rehlah masyiya (wandering on foot?) from Abou Risy to Kasr El-Ainy had recorded thousands of stories with thousands of emotions. As for me, this 17 minutes walking distance is a 'muhasabah, thinking, learning-about-life, cherish-sensitivity moments'. To share you a scene, it may look 'adi and simple but it does touch my heart. As I walked passed the mahatah bus Abou Risy on my way back from school, the pakcik-pakcik there are shouting out loud after one another to attract people to buy their stuff (like pasar malam in malaysia). It is a plain secene but the colours comes when I saw their smilling faces. The one who's young and healthy, the one whose leg amputated sitting on a mat, the one whom I saw the signs of heavy burden in his face. Optimistic!

Allah would not change our destiny if we don't work
for it!


Perform your ibadah as if you will die tomorrow. Strive for your
life as if you will live thousands years more!

The scene poured drops of eves in my heart and I feel alife after my long lecture session. Everybody has right to feel optimistic about this life. Even you are pauper, not well educated, repeat the same mistakes again and again and repent again and again.
Allah will not be tired to give His forgiveness but you will be tired of asking it.

It just a scene which I'm myself don't know how to describe it precisely. Just sharing this, so that we can always look things around us differently through the lense of wisdom and iman!




Friday, February 13, 2009

Hanya Darah



“Aku tak sampai sana Ya Allah. Biarlah darah aku sampai sana,” seorang ukhti kelihatan sedikit resah kerana tekanan darahnya agak rendah. Gilirannya telah dipotong beberapa orang.
Sesekali meneguk ‘asir untuk meninggikan tekanan darahnya. Ini hanya secebis, warna-warni sekitar ‘Tabaru’ Dam Filastin’ atau Derma Darah Palestin.

Akhir-akhir ini, ramai yang menoleh ke Rafah sesekali ke Arisy yang telah lama menanti kunjungan perhatian ummah gara-gara graf konflik semenanjung Gaza yang memuncak. Jangan pernah lupa, konflik ini tak pernah berhenti cuma apabila media memberikan lebih fokus barulah masyarakat teringat Muhammad, saudara kita di Palestin mengalami hypovolumic shock kerana bertempur dengan zionis bersenjatakan serpihan dinding rumah tempat dia bersandar ketika menghafaz surah at-taubah.
Ingat Sakina? Dia sudah pergi meninggalkan kita.

Baru-baru ini ketika kelas anatomy, seorang ukhti memberikan tazkirah…tentang Palestin,
“Kito kena yakin, kito ni pasti menee. Cumo kito tok tahu bila. Mulo denge islah diri”.

Cepat ambil quran terjemahan, buka muka surat 41, Al-Baqarah: 249. Talut, Jalut dan saringan! Jangan ingat nak mewakili team Irshad FC saja yang ada proses saringan. Berlatih bagai nak rak. Menjadi jundullah lebih-lebihlah lagi. Bukan sekadar fizikal. Kalau di dada asyik ada nama Rihanna, go back and practice before you ‘register’ to be a jundullah. Jangan pernah lupa, Allah tak perlukan kita. Islam pasti menang sekalipun kau dan aku tak lepas proses saringan Allah tetapi waktu itu siapakah al-khasirun? Tempat kita? Telah digantikan…
Teringat zaman sekolah dulu, ada pertandingan menulis sajak. Pesertanya ada 2 orang, hadiahnya 3. Pasti ada yang ketiga masuk untuk cukupkan korum.
“Kalau tak menang pun sekurang-kurangnya dapatla jugak towel hello kitty (hadiah tempat ketiga)”.

Itu baru towel hello kitty. Kalau kita yakin Islam memang, akan menang. Pasti. Kenapa tak berusaha menjadi sebahagian yang memenangkan Islam? Sekalipun sekadar berjihad untuk tolak tepi Pepsi? Come on? Takkan nak jadi spectator je? Ambil pembaris ukur iman kita. Pakai mm ke m? Kau tahu. Aku tahu.

p/s: Hidup menang, mati syahid

Sakit tak semestinya sakit


Sakit tak semestinya sakit. Tak semua orang sedar dirinya sakit. Internal hemorrhoids (buasir), pesakit tak sedar pun yang dia sebenarnya memerlukan rawatan sebab dia tak rasa sakit. Seorang pesakit diabetes boleh berlubang kakinya akibat tusukkan paku sedalam 1.5cm tanpa sedar.
Dr. Maha Sabry, “Pain sensation is a blessing of Allah.” Tab’an!

Itu cerita pesakit fizikal. Apa cerita pesakit jiwa? Berapa ramai yang sakit imannya? Sedar ke? Tak! Berapa ramai yang tak tahu baca Quran walau sudah bercucu dua? Berapa ramai yang masih tak menutup aurat (bukan tak pakai tudung) walau harga tudung/kain/stokin sangat murah di Jalan Tunku Abdul Rahman/Mydin?...mahal lagi harga cicin zulian! Loss of pain sensation. Hati terhijab. Tak sensitif dengan dosa sendiri apatah lagi dosa orang lain.
“Kubur asing-asing!” Ini cerita pesakit iman.

Kenapa Allah kurniakan pain sensation? Ada tak sesiapa ketika tehantuk kepala pada bucu meja sebut Alhamdulillah?
Dalam suatu riwayat, seorang lelaki yang sakit kepala lalu membalut kepalanya. Apabila
Rabiatul Adawiyah melihatnya beliau berkata, “ Ketika kau sihat tak pernah kau
menunjukkan tanda syukur tetapi apabila sakit sedikit kau menunjuk-nunjukkan
kesakitanmu.”
Kalau tak ada pain sensation, mungkin dah sebotol darah mengalir keluar lalu hypotension, spasm. Ini nikmat sakit. Untuk dapatkan rawatan.

Pesakit iman kronik tak rasa sakit kerana, treshold of pain sensation is too high. Unsensitive to stimulus. Walaupun sakit, masih bergelak ketawa. Tak terfikir nak pergi hospital. Dua minggu lepas seorang ukhti bagi tazkirah sebelum kelas fisiologi, “Hassan Al-Basri pernah menangis kerana terlupakan Allah beberapa minit.” Tak rasa tertampar ke? Agak-agak berapa tresholdnya? Berkali-kali ganda lebih rendah daripada kita. Menonton desperate housewives marathon selama 5 jam. Rasa apa?

“Setiap anggota badan tidak menganut suatu agama pun melainkan Islam kerana ia tidak terjadi, tidak membesar dan tidak bergerak melainkan mengikut undang-undang Tuhan” Asas-asas Islam, Abu ‘Ala Maududi.
Mata kita Islam kerana erti Islam ialah menyerah diri dan patuh kepada Allah. Mata ditugaskan untuk melihat, tak pernah mata rampas kuasa telinga untuk mendengar. Bayangkan kalau mata boleh berlari ketika dipaksa menonton desperate housewives marathon 5 jam, dah lama dia lari.

Tahu lagu ini? ‘Jiwa derita dengan dosa, hati rasa kurang amal padaNya. Itulah hakikat jiwa kehambaan’. Saya pernah tertanya-tanya kenapa orang-orang soleh selalu rasa dirinya kurang amal, banyak dosa.
“Aku bimbang kalau semua ke syurga kecuali seorang dan yang seorang itu adalah
aku” Umar Al-Khatab.
Tab’an wa tab’an wa tab’an kaman, amal dia mesti berganda-ganda dari kita. Itulah hakikat kehambaan. Makin bertambah iman makin rasa kurang, makin rasa nak tambah amal, makin dekat dengan dengan Allah. Ini cerita treshold of pain sensation superminimum. Sebab tu, apabila terlintas sedetik sahaja perkara mungkar cepat-cepat beristighfar.

Jom rendahkan treshold kita. Biar sering rasa sakit, supaya boleh segera ke hospital untuk mendapatkan rawatan. Allahlah sebaik-baik Penyembuh. Tidaklah yang menulis lebih rendah treshold daripada yang membaca.

Saturday, December 6, 2008

Lagi aku jatuh hati...


Dalam kemeriahan persiapan Eid Adha, aku berjalan-jalan di Abou Risy. Udara petang yang selesa (tak sejuk dan tak panas- equal stimulation of termal receptor), aku melalui lorong bawah kubri daripada Abou Risy ke Moniera, tempat jual buku-buku second hand.

View 1: Seorang Pakcik penjual buku sedang mengaji di depan kedai.

View 2: Kedai menjual daging yang penuh dengan daging-daging yang baru dilapah. Terpasang bacaan Quran yang sangat lembut


Cukup. Cukup untuk membuatkan aku tersenyum seorang diri. Rasa bahagia, apabila melihat mereka: manusia yang hidup dalam keadaan yang sangat bersederhana, meraikan fitrah. Meraikan hari kebesaran Islam dengan cara yang cukup tawadhu' tetapi penuh penghayatan. Susah untuk aku tulis, tetapi lagi sekali, aku jatuh hati...


Hari Arafah : 1. Sunat untuk berpuasa ( diampunkan dosa setahun sebelum dan selepas)

2. Doa mustajab

p/s: dun ever be Al-Khassirun

Thursday, December 4, 2008

Lupa nak bawa tali!





“Okey girls, next week we will have some quiz from the start untill the pain
sensation”,
Dr. Maha Sabry.

Satu ayat yang simple. Cukup, untuk membuatkan hampir sebahagian besar pelajar ‘study’ hanya sampai topik ‘pain sensation’.

Bukan nak cerita perihal sistem pendidikan tetapi sistem ilmu kendiri. Sejak daripada sekolah, isu sekularisme dalam pendidikan dan pendidikan berasaskan peperiksaan (exam oriented) sering jadi respon bagi musabab masalah-masalah yang melanda para pelajar. Ini satu hal, satu hal lainnya sistem ilmu kendiri yang musnah dalam diri pelajar. Tidak cintakan ilmu, menyempitkan skop ilmu dan ini membunuh masyarakat kerana remaja-remaja yang lahir daripada penyakit-peyakit ini adalah kertas-kertas yang dicetak dengan deretan huruf A yang kosong. Buzz beribu-ribu kali untuk diri sendiri.

Oleh itu, ramai yang berkesedaran dan penentang sekularisme cuba memisahkan diri daripada sistem ini. Paling kurang, di tempat saya menuntut, dr akan kaitkan topik-topik pelajaran dengan ciptaan Allah. Juga sahabat-sahabat disekeliling sering membantu menambah input penciptaan agung Allah berdasarkan ilmu yang dipelajari. Ramai yang mula menyemai benih-benih ilmu dalam diri seperti mempelajari kitab-kitab agama, mengambil kelas tahsin, tahfiz Al-Quran, kelas Bahasa Arab fushah dan lain-lain. Syukur, roh ilmu mula berakar umbi.

Ilmu yang dikejar itu perlu diikat. Talinya adalah amal- hidup bersama ilmu. Kebanyakan ‘pengkejar ilmu’ terlupa membawa tali. Ada juga, yang memilih untuk mengikat ilmu-ilmu tertentu. Amal di sini, boleh dikembangkan pengertiannya, seperti ilmu perubatan yang saya pelajari tidaklah dapat saya amalkan sepenuhnya dalam kehidupan harian tetapi boleh diulangkaji dan ditambah kefahaman dari masa ke masa. Ada individu yang memilih untuk menganak-tirikan dalam ‘pengikatan’ ilmu, jelas masih ada tempias ‘exam oriented’ dalam dirinya.
Maksudnya, ilmu-ilmu di universiti yang ada sistem perperiksaan akan sentiasa diulang-ulang kaji. Hafaz, buat nota dan lain-lain. Ini ilmu yang dia pilih untuk mengikatnya. Manakala ilmu-ilmu yang kurang atau tiada nilai sijil (seperti kelas pengajian kitab, ceramah, tazkirah dan lain-lain) dibiar lepas bebas. Kitab itu hanya akan di buka pada hari pengajian selama 2 jam. Do we expect it to be part of our life? Sedangkan ilmu yang ada dalam kitab-kitab itu adalah ilmu hidup. Untuk amal bukan sekadar untuk merawat orang sakit. Ambil ihtimam untuk sentiasa memartabatkan ilmu.

Tak dinafikan, mungkinlah ramai yang akan kata ‘focus on your core business which is medic’ tetapi tak luak rasanya masa yang ada (potong masa buka friendseter) kalau diulang kaji untuk remind kitab-kitab yang dipelajari dan amal. Jujur, saya masih berusaha ke arah itu. Jauh lagi kalau nak sampai tahap Ibu Sina, Al-Khawarizmi. Itu insan-insan yang ‘izah dengan ketinggian ilmu. Jom, sama-sama kita bina sistem ilmu yang tulen dalam diri.



‘Tak bertaqwa orang yang tak berlimu, tak berilmu orang yang
tak beramal’
-Abu Darda’